Banjir Jakarta dan Akar Permasalahan

Banjir Jakarta dan Akar Permasalahan

Jakarta kembali menghadapi banjir besar pada awal Maret 2025, dampak dari curah hujan ekstrem, banjir rob, dan banjir kiriman dari 13 sungai, terutama Ciliwung, Pesanggrahan, dan Angke—semua ini di perburuk oleh penurunan muka tanah dan urbanisasi tidak terkendali. Banjir ini menjadi yang terparah sejak 2020, menyebabkan 9 korban jiwa, 90.000 pengungsi, dan kerugian di perkirakan mencapai US$ 258 juta.


🤝 Penanganan Bukan Sekadar Solusi Parsial

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa di lakukan parsial hanya di wilayah ibu kota. Strategi harus mencakup daerah hulu, tengah, dan hilir, melibatkan Jawa Barat, Banten, dan DKI sebagai satu kesatuan menangani aliran air dan infrastruktur.

Lebih jauh, Kemenko PMK telah membentuk Tim Perumus Rencana Aksi Pengurangan Risiko Bencana Banjir Jabodetabek 2025–2027. Tim ini di rancang untuk menyusun strategi terpadu dan memastikan aksi lapangan berjalan efektif.


🔧 Infrastruktur dan Tindakan Konkret

Beberapa prioritas yang saat ini di jalankan:

  • 586 pompa stasioner dan 527 pompa mobile telah di siagakan di Jakarta sebagai respons cepat.

  • Pembangunan tanggul rob sepanjang 1,4 km di Penjaringan, Jakarta Utara, di targetkan rampung akhir 2025.

  • Normalisasi Kali Ciliwung dan sungai lainnya di lakukan bekerja sama dengan Kementerian PU dan ATR/BPN.

  • Kebijakan penertiban fungsi lahan dan alih guna lahan di wilayah hulu mendapat penekanan agar tidak memperparah limpasan air .


🏙️ Kolaborasi Antar Daerah & Pemangku Kepentingan

  • Pemerintah Provinsi DKI menjalin komunikasi intens dengan daerah penyangga di Jawa Barat dan Banten untuk penyelarasan mitigasi banjir.

  • DPR dan anggota legislatif meminta keterlibatan pemerintah pusat, agar penanganan banjir Jabodetabek di lakukan secara holistik dari hulu ke hilir, termasuk audit izin lahan dan pembangunan .

  • BPBD DKI bersama stakeholder terkait menegaskan perlunya sistem penanggulangan bencana yang berkesinambungan, bukan sekadar respons saat kejadian.


🧩 Strategi Jangka Menengah & Panjang

Beberapa rencana strategis ke depan meliputi:

Strategi Utama Penjelasan
Terowongan bawah tanah & waduk Menambah kapasitas tampungan air saat hujan ekstrem
Sumur resapan & drainase lengkap Mengurangi limpasan secara lokal dan meningkatkan kapasitas resapan
Penertiban lahan bantaran sungai & perumahan liar Mencegah hambatan aliran sungai dan banjir lokalan
Peringatan dini multimodal Memperkuat sistem informasi dari BPBD, BMKG dan aplikasi masyarakat
Evaluasi pejabat & tata kelola air Menjamin akuntabilitas dan efektivitas pengelolaan infrastruktur air

✅ Kesimpulan

Penanganan banjir Jakarta menuntut pendekatan menyeluruh dan kolaborasi aktif antar daerah, kementerian, dan pemerintah pusat. Sudah ada langkah nyata dengan normalisasi sungai, tanggul rob, pompa siaga, serta kerangka regulasi dan sistem mitigasi terpadu. Namun, implementasi kebijakan jangka panjang, seperti pembangunan infrastruktur besar, penertiban lahan, sampai edukasi masyarakat, akan menentukan keberhasilan jangka panjang dan mencegah banjir masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *